Drama 120 Menit, Ferran Torres Bungkam Argentina, Spanyol Resmi Jadi Juara Dunia 2026

AMERIKA, Purworejosport.com, Timnas Spanyol sukses menorehkan sejarah dengan menjuarai Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina 1-0 melalui babak perpanjangan waktu pada laga final yang berlangsung di New York New Jersey Stadium, Amerika Serikat, Senin (20/7/2026) dini hari WIB.

Gol semata wayang kemenangan La Roja dicetak oleh Ferran Torres pada menit ke-106. Tendangan kerasnya ke pojok atas gawang tak mampu dihalau Emiliano Martinez, sekaligus memastikan Spanyol meraih gelar Piala Dunia kedua dalam sejarah setelah keberhasilan mereka pada edisi 2010 di Afrika Selatan.

Kemenangan ini sekaligus menggagalkan ambisi Argentina untuk mempertahankan gelar juara dunia yang diraih pada Piala Dunia 2022. Jika berhasil, Albiceleste akan menjadi negara ketiga yang mampu mempertahankan trofi Piala Dunia secara beruntun setelah Italia (1934 dan 1938) serta Brasil (1958 dan 1962).

Sejak peluit awal dibunyikan, pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi. Spanyol tampil dominan dengan penguasaan bola dan terus menekan pertahanan Argentina. Meski demikian, lini belakang Albiceleste yang dipimpin Emiliano Martinez tampil disiplin sehingga mampu menjaga gawangnya tetap aman selama 90 menit waktu normal.

Kebuntuan akhirnya pecah pada babak tambahan waktu. Memanfaatkan celah di pertahanan Argentina, Ferran Torres melepaskan sepakan keras yang bersarang di sudut atas gawang. Gol tersebut menjadi satu-satunya yang tercipta dalam pertandingan sekaligus memastikan trofi Piala Dunia berpindah ke tangan Spanyol.

Gol tersebut juga mengukir catatan istimewa bagi Torres. Ia menjadi pemain pengganti kelima yang berhasil mencetak gol pada final Piala Dunia, sekaligus pemain pertama yang melakukannya sejak Mario Götze membawa Jerman mengalahkan Argentina pada final Piala Dunia 2014.

Di level klub, Torres juga mencatat sejarah sebagai pemain Barcelona kedua yang mencetak gol di final Piala Dunia setelah Andrés Iniesta, yang menjadi pahlawan kemenangan Spanyol atas Belanda pada final 2010.
Sepanjang turnamen, Spanyol tampil konsisten di semua lini.

Lamine Yamal, meski hanya mencetak satu gol, memberikan kontribusi besar lewat kreativitas, kecepatan, dan ancaman dari sisi sayap. Rodri menjadi motor permainan di lini tengah, Mikel Oyarzabal tampil tajam di lini depan, sementara Unai Simón menunjukkan performa impresif di bawah mistar hingga meraih penghargaan Golden Glove sebagai kiper terbaik turnamen.

Di sisi lain, Argentina sebenarnya datang ke partai puncak dengan kepercayaan diri tinggi setelah membukukan tujuh kemenangan beruntun. Namun dominasi permainan Spanyol membuat Lionel Messi dan rekan-rekannya kesulitan mengembangkan permainan.

Statistik pertandingan memperlihatkan keunggulan Spanyol dengan 12 tembakan tepat sasaran, sedangkan Argentina hanya mampu mencatatkan satu tembakan yang mengarah ke gawang.

Situasi Argentina semakin berat ketika Enzo Fernández menerima kartu kuning kedua pada babak tambahan waktu sehingga harus meninggalkan lapangan. Bermain dengan 10 pemain membuat upaya Albiceleste mengejar ketertinggalan semakin sulit hingga peluit panjang dibunyikan.

Meski gagal mempertahankan gelar juara dunia, Lionel Messi tetap mencatat sejarah sebagai pemain pertama yang menjadi starter dalam tiga final Piala Dunia.

Bagi Spanyol, keberhasilan ini menandai lahirnya generasi emas baru. Setelah menjuarai Euro 2024 dan kini mengangkat trofi Piala Dunia 2026, skuad asuhan Luis de la Fuente menunjukkan dominasi yang berpotensi mengulang era kejayaan La Roja pada periode 2008 hingga 2012.

Dengan kombinasi pemain muda berbakat dan pemain berpengalaman, Spanyol kini kembali berada di puncak sepak bola dunia, sementara Argentina harus merelakan mimpinya mempertahankan mahkota juara dunia. (Kun)

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *