PURWOREJO, Purworejosport.com, Cabang olahraga karate di Purworejo tidak mengalami perkembangan yang signifikan dari tahun ke tahun. Hingga saat ini, hanya ada satu tempat latihan (dojo) karate di Kabupaten Purworejo, yakni Hok Shotokan di Kecamatan Kutoarjo. Dojo inilah yang menjadi satu-satunya penyumbang atlet peserta Popda cabor karate tahun 2026 ini.
Seperti pada pelaksanaan Popda cabor karate yang berlangsung Minggu (19/4/2026). Bertempat di Graha Wiyata Krida SMAN 2, ada 30 atlet dari tingkat SD hingga SLTA sederajat yang menjadi peserta Popda tahun ini.
Mereka semua berasal dari Dojo Hok Shotokan yang diampu oleh Eka Perdana. Koh Eka merupakan Ketua Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Kabupaten Purworejo sekaligus pelatih di Dojo Hok Shotokan Kutoarjo.
Para peserta mengikuti dua kategori lomba, yakni Kata dan Kumite. “Untuk Peserta kata ada 30 atlet. Rinciannya, SD tujuh putri delapan putra, SMP lima putri tiga putra, SLTA empat putri tiga putra. Sedangkan kategori Kumite diikuti 19 atlet. Yakni SD enam putri tujuh putra, SMP tiga putri dua putra, dan SMA hanya ada satu putra. Satu peserta banyak yang ikut dua kategori sekaligus,” ungkap Ketua Panitia, Edi Kuncoro di lokasi pertandingan, Minggu (19/4/2026).

Terkait kondisi perkembangan cabor karate di Purworejo, Edi yang merupakan Pembina Forki Purworejo menyatakan rasa keprihatinannya. “Para peserta Popda ini berasal dari satu dojo yang merupakan satu-satunya di Purworejo. Jadi mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Begitu juga kami, sudah mengetahui mana yang akan menjadi juara pada masing-masing tingkat dan kategori,” kata Edi.
Pelaksanaan Popda ini, lanjutnya, hanyalah untuk menjalankan agenda Dinporapar terhadap semua cabor yang memenuhi syarat mengikuti Popda. Selain itu, hasil lomba ini pun hanya sebatas pada tingkat Kedu saja.
“Para peserta paling hanya sampai level Kedu karena untuk ke tingkat provinsi belum bisa memenuhi standar. Karena rata-rata peserta ini grade-nya masih di bawah level provinsi. Mereka rata-rata masih berada di sabuk kuning,” ungkap Edi.
Ia kembali menjelaskan bahwa peserta Popda selalu monoton karena di Purworejo hanya ada satu dojo. “Tanpa harus mengadakan Popda, sebenarnya kami sudah mengetahui hasil juaranya. Tapi kan perlu dipublikasikan kompetensi atlet. Selain itu nanti untuk keperluan piagam bagi para juara,” imbuhnya.
Meski begitu pihaknya sangat mengapresiasi Dinporapar yang sudah bersikap adil kepada cabor manapun, termasuk karate. Edi mengakui, animo atau minat siswa untuk ikut karate masih minim dibanding dengan cabor bela diri lainnya. Meskipun pihaknya selalu berupaya mempromosikan ke sekolah sekolah.
Dirinya berharap nantinya akan ada publikasi dan promosi yang lebih masif sehingga olahraga bela diri karate dapat diminati masyarakat, khususnya pelajar di Purworejo. (Yud)
![]()
